BACAGEH, Gedongtataan--Setiap kali hujan deras mengguyur, kecemasan langsung menyelimuti warga Blok G Perum Bina Mitra 2, Desa Bernung, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran. Bagi mereka, hujan bukan lagi berkah, melainkan ancaman banjir yang selalu datang tiba-tiba.
“Selama bulan puasa ini saja sudah lebih dari tiga kali kami kebanjiran. Tapi yang paling parah malam ini. Pas menjelang buka puasa lagi,” ujar seorang warga, Senin (16-2-2026) sore.
Air yang meluap setinggi betis tak hanya menggenangi jalan dan rumah warga. Teras Musala Al Ibrahim pun ikut terendam.
Derasnya arus bahkan menjebol dinding panel beton yang menjadi pembatas antara musala dan aliran sungai di sampingnya.
Warga menduga banjir terjadi akibat pendangkalan sungai yang semakin parah dari waktu ke waktu.
“Lumpur di sungai itu sudah sangat tebal. Jarak permukaan air dengan badan jembatan tinggal sekitar 50 sentimeter,” kata warga lainnya.
Akibatnya, setiap hujan deras turun, aliran sungai menghantam badan jembatan lalu meluap ke jalan dan permukiman warga di Blok G.
Ironisnya, yang membuat warga semakin kecewa, persoalan ini disebut sudah berulang kali dilaporkan kepada pihak pengembang perumahan, namun tak pernah mendapat respons.
“Sudah sering kami sampaikan di grup WhatsApp perumahan Bina Mitra. Di situ juga ada pihak pengembang. Tapi tidak pernah ada tanggapan,” keluh warga.
Warga bersama aparat Desa Bernung sebenarnya sudah beberapa kali bergotong royong membersihkan aliran sungai. Namun upaya itu tak banyak membantu.
“Gotong royong sudah sering dilakukan. Tapi lumpurnya terlalu tebal. Sepertinya harus pakai alat berat, dan badan jembatannya juga perlu ditinggikan. Tapi pengembang seperti tutup mata dengan masalah ini,” cetus warga.
Kini, setiap hujan turun, warga hanya bisa waswas—menunggu air kembali meluap dan merendam permukiman mereka.
Laporan/Editor: Redaksi Bacageh
Berikan Komentar