Usung Cangget Bakha, Bupati Lampura Menapak Panggung Kebudayaan Nasional

Usung Cangget Bakha, Bupati Lampura Menapak Panggung Kebudayaan Nasional
Bupati Lampung Utara Hamartoni Ahadis

BACAGEH, Kotabumi--Menutup tahun 2025, kabar membanggakan datang untuk seluruh elemen masyarakat Kabupaten Lampung Utara (Lampura). Di tengah hiruk pikuk akhir tahun dan beragam masalah pembangunan, nama Bupati Hamartoni Ahadis justru melesat ke panggung nasional.

Bupati Lampura Hamartoni Ahadis resmi masuk 10 besar Anugerah Kebudayaan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat 2026 dan akan beradu gagasan di babak presentasi elit nasional.

Capaian tersebut, bukan perkara mudah. Dari 22 kepala daerah se-Indonesia yang mendaftar, hanya 10 nama terbaik yang dinyatakan lolos setelah melewati seleksi ketat administrasi dan substansi. Hamartoni mengantongi poin 375, yang dinilai langsung  lima tokoh besar seni-budaya nasional, termasuk budayawan Sudjiwo Tejo.

Babak penentuan akan digelar 8–9 Januari 2026 di Kantor PWI Pusat, Jakarta. Di sanalah, visi kebudayaan Bupati Lampura akan diuji, disandingkan dengan para kepala daerah lain yang juga masuk nominasi 10 besar. 

Dalam proses seleksi tersebut, Bupati Hamartoni bukan sekadar proposal. Ia mengusung denyut nadi tradisi lokal Cangget Bakha, bertajuk “Purnama yang Mempertemukan, Tradisi yang Menyatukan”—sebuah narasi tentang budaya yang hidup, dirawat, dan diwariskan di tengah perubahan zaman.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampura Perdana Putra menyebut capaian itu sebagai buah kerja panjang. “Ini bukan sekadar lomba, tapi pengakuan atas ikhtiar menjaga identitas budaya Lampung Utara,” ujarnya singkat.

Anugerah Kebudayaan PWI Pusat menjadi penghargaan prestisius bagi kepala daerah yang serius memajukan budaya daerahnya. Penghargaan puncak akan diumumkan pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2026 di Kota Serang, Provinsi Banten, 6–9 Februari mendatang.

Bagi Kabupaten Lampura, langkah Hamartoni itu bukan hanya prestasi pribadi, melainkan harapan agar budaya daerah tak sekadar hidup di panggung seremoni, tetapi tetap berdenyut di tengah masyarakat. (**)

Laporan: Yansen

Editor: Nizar

Berikan Komentar