Inflasi Lampung Melandai, Daya Beli Jadi Perhatian

Inflasi Lampung Melandai, Daya Beli Jadi Perhatian

BACAGEH, Bandarlampung--Inflasi Lampung pada September 2026 melandai menjadi 0,14 persen secara bulanan, atau turun dari 0,23 persen pada Agustus. Angka tersebut juga jauh di bawah inflasi nasional yang mencapai 0,30 persen. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis 1 Oktober 2026, inflasi Lampung menjadi salah satu yang terendah di Sumatera bersama Sumatera Utara. Lampung juga masuk lima provinsi dengan inflasi bulanan terendah secara nasional.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, pengendalian harga harus diikuti upaya memperkuat pendapatan masyarakat. Menurut dia, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari terkendalinya inflasi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup.

“Harga kita jaga, penghasilan masyarakat kita kuatkan. Karena ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya angka ekonomi yang bagus, tetapi apakah masyarakat merasakan hidupnya semakin ringan dan memiliki masa depan yang lebih baik,” kata Mirza.

Untuk menjaga stabilitas harga sekaligus meningkatkan pendapatan, Pemprov Lampung menjalankan sejumlah program, antara lain Desaku Maju, bantuan dryer, pupuk hayati cair, serta penguatan sektor pertanian dan UMKM.

Pemprov juga mempercepat pembangunan dan perbaikan 62 ruas jalan provinsi dan 24 jembatan untuk memperlancar distribusi hasil pertanian dan menekan hambatan distribusi antarwilayah.

BPS mencatat, perlambatan inflasi September antara lain dipengaruhi penurunan harga sejumlah komoditas. Data Bank Indonesia (BI) Lampung juga menunjukkan harga bawang merah, daging ayam ras, bawang putih, jagung manis, dan minyak goreng mengalami penurunan sepanjang September.

Harga bawang merah turun seiring panen di sejumlah sentra produksi lokal, terutama Pringsewu, Pesawaran, dan Lampung Barat. Penurunan tersebut membantu menahan tekanan inflasi dari kenaikan harga cabai merah, beras, cabai rawit, dan tomat. Komoditas tersebut masing-masing memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,12 persen, 0,10 persen, 0,06 persen, dan 0,02 persen.

Meski inflasi bulanan terkendali, tekanan harga secara tahunan masih perlu diwaspadai. Inflasi Lampung pada September 2026 secara tahunan (year on year/yoy) tercatat 3,51 persen, lebih tinggi dibandingkan nasional sebesar 3,28 persen dan sedikit melewati batas atas sasaran inflasi 3,5 persen.

BI memperkirakan inflasi Lampung tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen hingga akhir 2026. Namun, sejumlah risiko masih membayangi, antara lain potensi El Nino yang dapat memengaruhi harga gabah serta perkembangan harga komoditas global. Pemprov Lampung menyatakan akan terus menjaga stabilitas harga melalui koordinasi dengan pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/kota, dunia usaha, petani, dan masyarakat. (**)

Berikan Komentar