Dibawa Belanda, Berakar di Bagelen

Dibawa Belanda, Berakar di Bagelen
Kepala Desa Bagelen 1907-1912, beserta keluarga dan tokoh masyarakat (Foto: Arsip Nasional)

Mereka datang dari Purworejo,Jawa Tengah pada 1905. Menempuh perjalanan tiga hari tiga malam dari Telukbetung. Hutan dibuka, sawah dicetak, dan sebuah desa perlahan tumbuh. Hingga kini, jejaknya masih hidup dan berakar Bagelen.

BACAGEH, Gedongtataan--Desa Bagelen, tidak lahir dalam sehari. Ada hutan yang harus dibuka. Ada perjalanan panjang yang harus ditempuh. Ada puluhan orang yang meninggalkan tanah kelahiran untuk memulai hidup baru di Lampung.

Semua bermula pada 1905. Sebanyak 43 orang dari wilayah Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah, didatangkan ke Lampung dalam program kolonisasi pemerintah Hindia Belanda.

Rombongan itu terdiri atas 40 laki-laki dan tiga perempuan. Mereka dipimpin Tuan Eteeng. Dari Jawa, perjalanan berlanjut ke Lampung. Setelah tiba di kawasan Telukbetung, mereka tidak langsung menemukan permukiman. Belum ada jalan seperti sekarang. Belum ada desa, hanya hutan lebat yang terbentang.

Para pendatang kemudian berjalan kaki menuju wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Bagelen, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.

Tiga Hari Tiga Malam

“Dari Telukbetung itu berjalan kaki sampai ke Bagelen. Kalau dulu belum Bagelen, masih wilayah Gedongtataan. Itu sekitar tiga hari perjalanan,” tutur Lesmono Sekretaris Desa Bagelen, Rabu (20-8-2026).

Di tempat itulah kehidupan baru dimulai. Hutan rimba perlahan berubah. Pohon-pohon besar ditebang. Lahan dibuka. Permukiman dibangun. Persawahan dicetak. “Benar-benar babat alas,” ujar Lesmono.

Bagelen menjadi bagian dari kebijakan kolonisasi pemerintah Hindia Belanda yang berkaitan dengan pelaksanaan Politik Etis.

Lokasi permukiman telah ditentukan sebelumnya. Pertimbangannya sederhana: tanah dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan pertanian. Namun membuka hutan bukan pekerjaan ringan.

Salah satu benda yang dikaitkan dengan masa pembukaan lahan itu adalah bola besi berukuran besar.

Ada dua bola besi. Benda tersebut digunakan untuk merobohkan pohon-pohon besar. Caranya dengan menarik bola besi menggunakan bulldozer dan rantai.

Satu benda kini disebut berada di Museum Nasional Transmigrasi yang juga berlokasi di Desa Bagelen, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Satu lainnya berada di Taman Mini Indonesia Indah.

“Bola besi itu digunakan untuk merobohkan pohon-pohon besar. Ditarik menggunakan bulldozer dengan rantai besar,” jelas Lesmono.

Baca juga: Rumah Roberto

Setelah hutan terbuka, sawah menjadi tumpuan hidup. Persawahan pertama disebut berada di wilayah Dusun II Desa Bagelen.

Pada masa awal, produksi gabah dari lahan persawahan itu, hanya sekitar 90 hingga 100 kilogram per hektare. Lahan masih dalam proses perubahan dari hutan menjadi sawah. Namun, dari lahan itulah kehidupan mulai tumbuh.

Gelombang Kedatangan

Kedatangan 43 orang dari Purworejo itu ternyata bukan akhir. Setahun kemudian, jumlah pendatang bertambah menjadi 203 orang atau sekitar 100 kepala keluarga. Mereka dipimpin Tuan Heers.

Pada 1907, sekitar 100 orang dari 50 kepala keluarga kembali datang. Rombongan ketiga itu dipimpin Tuan Alweek.

Setahun berikutnya, gelombang lebih besar tiba. Sekitar 500 orang datang di bawah pimpinan Tuan Ba’ang.

Catatan kedatangan pada 1909 hingga 1910 belum lengkap. Tetapi satu hal jelas. Permukiman itu terus berkembang.

Pada 1910, pemerintah kolonial Belanda menyerahkan tanah Bagelen kepada masyarakat. Luasnya mencapai 537 bau atau sekitar 424,6 hektare. Setiap kepala keluarga mendapat satu bau: seperempat bau untuk pekarangan. Tiga perempat bau untuk sawah dan peladangan. Dari tanah itulah sebuah komunitas mulai membentuk kehidupan sendiri.

Desa Mulai Tumbuh

Sistem pemerintahan lokal kemudian terbentuk. Belum ada pemilihan kepala desa seperti sekarang. “Dulu belum ada pemilihan. Ketua kampung itu ditunjuk,” kata Lesmono.

Catatan Desa Bagelen menyebut Karto Redjo sebagai kepala desa pertama pada 1905–1907. Setelahnya Sastro Sentiko pada 1907–1912. Kemudian Pawiro Tinoyo memimpin pada 1912–1920. Mangun Harjo meneruskan kepemimpinan hingga 1945. Nama-nama itu menjadi bagian dari perjalanan panjang Bagelen. Namun warisan desa bukan hanya nama dan dokumen. Ada pula tradisi yang terus hidup.

Jawa yang Bertahan

Kuda Kepang. Mangsang Bodoh. Kicang Kecangan. Angguk dan Marhaban. Beragam kesenian itu menjadi jejak budaya masyarakat yang berasal dari Jawa dan menetap di Bagelen.

Angguk, misalnya, memiliki nuansa Islam yang kuat. Tradisi tersebut diyakini ikut dibawa masyarakat dari Jawa dan berkembang bersamaan dengan penyebaran Islam.

Hingga kini kesenian tersebut masih ditampilkan dalam berbagai kegiatan masyarakat. Begitu pula lesung.

Alat tradisional itu masih digunakan warga dalam kegiatan desa, termasuk pertunjukan, penyambutan kegiatan tertentu hingga peringatan malam 1 Muharram.

Meski demikian, tidak semua benda bisa langsung disebut peninggalan 1905. Lesmono mengakui, sebagian masih perlu ditelusuri. "Yang betul-betul asli dari 1905 masih butuh didata kembali,” ujarnya.

Di situlah persoalan sejarah Bagelen hari ini. Sebagian tersimpan dalam arsip. Sebagian hidup dalam benda. Sebagian lagi hanya bertahan melalui cerita dari mulut ke mulut.

Sejarah yang Belum Selesai

Lebih dari satu abad berlalu. Bagelen kini bukan lagi hutan yang harus dibabat. Jalan telah terbuka. Permukiman berkembang. Sawah tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Namun cerita tentang 43 orang pada 1905 belum selesai. 

Keturunan mereka masih hidup. Kesenian masih dimainkan. Cerita perjalanan dari Telukbetung masih dituturkan. 

Benda-benda lama masih dicari jejaknya. Arsip pun masih menyimpan potongan kisah yang belum seluruhnya terungkap.

Kepala Desa Bagelen Merdi Parmanto menilai sejarah tersebut merupakan identitas penting bagi masyarakat.

"Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengetahui Bagelen sebagai sebuah desa, tetapi tidak mengetahui bagaimana awal mula desa ini terbentuk,” katanya.

Menurut Merdi, cerita tentang Bagelen juga memiliki keterkaitan dengan sejarah kolonisasi yang lebih luas. Jejak perpindahan masyarakat Jawa pada masa itu, bahkan bersinggungan dengan komunitas transmigran yang kini berada di Suriname.

Karena itu, menurut dia, sejarah Bagelen bukan sekadar cerita sebuah desa. Ada perjalanan manusia di dalamnya. Ada perpindahan. Ada kerja keras membuka tanah baru. Ada kebudayaan yang dibawa dari tanah asal. Ada generasi yang kemudian lahir di tanah baru.

121 Tahun Kemudian

Pada 1905, mereka datang sebagai pendatang. Hari ini, keturunannya menyebut Bagelen sebagai rumah. Jarak waktu 121 tahun tidak menghapus cerita itu. Justru membuatnya semakin penting untuk dicatat.

Sejarah Bagelen tidak hanya tentang bagaimana sebuah desa terbentuk, tapi juga tentang bagaimana manusia beradaptasi dengan tanah baru. Mengubah hutan menjadi sawah, membangun permukiman, lalu mewariskan bahasa budaya dan kesenian kepada generasi berikutnya.

Meski demikian, masih ada pekerjaan besar. Mendata. Memeriksa arsip. Menelusuri benda peninggalan dan mencatat cerita para tetua sebelum hilang bersama waktu.

Tanpa itu semua, cerita 43 orang yang pernah membuka hutan pada 1905 bisa saja tinggal menjadi angka dalam buku sejarah. Padahal dari merekalah Desa Bagelen bermula. (**)

Laporan: Rifat Arif

Editor: Nizar

Berikan Komentar