BACAGEH, Lampung--Saat sebagian warga Kota Bandarlampung memilih rebahan di rumah pada malam hari, puluhan pesepeda justru berkumpul di sebuah titik nongkrong untuk memulai perjalanan tak biasa. Mereka menamakan diri komunitas “Uka-Uka”, kelompok gowes malam yang identik dengan rute ekstrem, jalur anti-mainstream hingga lokasi-lokasi bernuansa mistis.
Bukan sekadar olahraga, komunitas itu menjadikan gowes malam sebagai cara melepas penat selepas bekerja. Mulai dari pegawai kantoran, pekerja swasta hingga anggota komunitas sepeda lain berkumpul dalam satu rombongan untuk menaklukkan rute-rute tak biasa di Lampung.
Ketua Komunitas Sepeda Uka-Uka, Trio Wanardi mengatakan, ide gowes malam muncul karena sebagian besar anggotanya tidak memiliki waktu bersepeda pada pagi hari.
“Kalau pagi enggak sempat karena rata-rata kerja semua. Jadi kita bikin agendanya malam Jumat,” kata Trio, Minggu (17/5/2026).
Nama “Uka-Uka” sendiri dipilih secara spontan. Namun belakangan, nama itu identik dengan konsep perjalanan misterius ala program televisi lawas bertema penelusuran tempat angker.
“Awalnya spontan saja biar gampang diingat. Tapi ternyata teman-teman bilang mirip acara TV UK-UK zaman dulu, yang jalan-jalan cari tempat seram,” ujarnya sambil tertawa.
Rute Dirahasiakan, Peserta Diminta “Kudu Wani Kudu Kendel”
Berbeda dari komunitas gowes lain yang biasanya membagikan jalur perjalanan sejak awal, komunitas Uka-Uka justru merahasiakan rute mereka.

Peserta hanya diberi bocoran tema perjalanan sebelum berangkat. Jika jalur yang dipilih ekstrem, panitia biasanya hanya memberi kode “rute mengancam”.
“Rutenya memang sengaja dirahasiakan. Jadi orang datang benar-benar buat cari pengalaman,” ujarnya.
Tagline mereka pun terdengar nyeleneh: “Kudu Wani, Kudu Kendel”, yang berarti harus berani dan nekat.
Konsep itu ternyata bukan gimmick semata. Salah satu rute paling ekstrem yang pernah mereka lalui adalah tanjakan menuju Bukit Aslan. Jalurnya disebut hampir tanpa jeda menanjak sejauh sekitar tiga kilometer.
“Saya saja survei naik motor sudah ragu. Dari bawah sampai atas nanjak terus. Kepikiran anak-anak kuat apa enggak,” katanya.
Selain Bukit Aslan, pengalaman paling berkesan lainnya terjadi saat rombongan masuk jalur perkebunan karet di wilayah Way Galih, Lampung Selatan. Alih-alih menikmati jalur santai, mereka justru tersesat di tengah perkebunan pada malam hari.
“Sebenarnya waktu itu nyasar. Tapi ya sudah, jalan saja sampai akhirnya ketemu jalan keluar sendiri,” ucap Trio.
Tak Semua Orang Dianjurkan Ikut
Meski terbuka untuk umum, komunitas itu punya syarat khusus bagi calon peserta. Trio menegaskan kondisi tubuh dan sepeda wajib prima sebelum ikut gowes malam.

Sebab, rute yang mereka tempuh sering kali jauh dari permukiman dan minim penerangan.
“Kalau mau ikut harus sehat, sepedanya juga harus sehat. Jangan sampai baru seperempat jalan sudah menyerah. Setiap yang mau ikut diwajibkan punya senter,” jelasnya.
Ia bahkan mengaku beberapa peserta pernah mengalami kram hingga kehabisan napas saat perjalanan.
Karena itu, pemula yang baru mencoba bersepeda tidak disarankan langsung ikut Uka-Uka.
“Kalau baru pertama kali naik sepeda terus mau ikut uka-uka, jangan dulu deh,” ujarnya lagi sambil tertawa.
Meski begitu, jenis sepeda yang digunakan tidak dibatasi. Mulai dari MTB, gravel hingga sepeda lipat diperbolehkan ikut selama dalam kondisi layak.
Titik Kumpul Jadi Ruang Nongkrong Anak Gowes
Menariknya, komunitas ini tak hanya fokus pada garis finis. Mereka justru menjadikan titik kumpul sebelum gowes sebagai ruang nongkrong dan interaksi.

Biasanya, anggota berkumpul di kafe atau tempat makan sebelum memulai perjalanan malam. Konsep itu bahkan mulai menarik perhatian sejumlah brand lokal untuk berkolaborasi.
“Kalau komunitas lain biasanya collab di titik finis. Nah kita kebalik, titik kumpul yang dibuat seru,” tuturnya.
Jumlah peserta sendiri terus bertambah. Dari awalnya hanya tujuh orang, kini gowes malam Uka-Uka bisa diikuti hingga 25 pesepeda dari berbagai komunitas di Lampung.
Salah satu peserta, Fiko mengaku gowes malam menjadi pelarian dari rutinitas pekerjaan yang melelahkan. Pegawai di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung itu menyebut sensasi gowes malam memberikan pengalaman berbeda dibanding olahraga biasa.

“Seru dan anti-mainstream. Gowes malam dengan rute ekstrem itu jadi pengalaman yang enggak semua orang bisa rasain,” katanya.
Sementara peserta lainnya, Anggi menilai komunitas Uka-Uka bukan hanya soal olahraga, tetapi juga soal keberanian mencoba hal baru.
“Kadang kita enggak tahu rutenya ke mana. Tapi justru itu yang bikin penasaran dan nagih,” ujarnya.
Editor/Laporan: Ardiansyah
Berikan Komentar