BACAGEH, Lampung -- Lonjakan mobilitas masyarakat pada arus mudik Lebaran 2026 diperkirakan kembali melampaui 100 juta orang secara nasional. Besarnya pergerakan tersebut menjadikan momen tahunan ini sebagai ujian serius bagi sistem transportasi nasional, terutama di wilayah strategis seperti Lampung yang berperan sebagai gerbang utama Pulau Sumatera.
Dosen Fakultas Teknik Universitas Bandar Lampung (UBL) sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Pemberdayaan Wilayah I (Barat) Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Aditya Mahatidanar Hidayat, menilai kesiapan infrastruktur fisik saja belum cukup untuk menjamin kelancaran arus mudik tahun ini.
Menurut dia, posisi Lampung sangat strategis karena menjadi pintu masuk kendaraan dari Pulau Jawa melalui Pelabuhan Bakauheni. Pada puncak arus mudik, puluhan ribu kendaraan keluar dari pelabuhan setiap hari dan langsung terdistribusi ke jaringan jalan darat menuju berbagai daerah di Sumatera.
“Lampung menjadi salah satu titik kritis transportasi nasional. Lonjakan volume kendaraan yang tinggi dalam waktu bersamaan berpotensi memicu kepadatan, terutama di koridor utama,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Lampung di bawah kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menargetkan kondisi jalan provinsi dalam keadaan mantap dan bebas lubang sebelum puncak arus mudik.
Saat ini, tingkat kemantapan jalan provinsi berada di kisaran 79-80 persen. Percepatan penambalan lubang dan perbaikan titik kerusakan terus dilakukan untuk menjaga kelancaran arus kendaraan.
Aditya menegaskan, kualitas jalan yang baik memang berpengaruh pada kecepatan tempuh, efisiensi bahan bakar, kenyamanan, dan keselamatan pengguna jalan. Namun, persoalan utama terletak pada konsentrasi arus kendaraan di jalur tertentu.
Ia mencontohkan pergerakan kendaraan dari pelabuhan menuju Jalan Lintas Sumatera maupun akses tol kerap memunculkan titik sempit atau bottleneck.
“Jika volume kendaraan melampaui kapasitas jalan, kemacetan tetap terjadi meskipun kondisi jalannya mulus,” katanya.
Untuk mengantisipasi kepadatan, Dinas Perhubungan Provinsi Lampung menyiapkan penerapan sistem pengaturan arus (delaying system) serta zona penyangga (buffer zone) sebelum kendaraan memasuki kawasan pelabuhan.
Skema tersebut dirancang guna mencegah penumpukan kendaraan di area pelabuhan dan memastikan proses penyeberangan berlangsung tertib.
Selain manajemen lalu lintas, penguatan transportasi massal juga dinilai penting. Optimalisasi terminal dan angkutan umum antarkota diharapkan dapat mengurangi dominasi kendaraan pribadi, yang berdasarkan sejumlah survei nasional masih digunakan lebih dari 60 persen pemudik.
“Ketergantungan pada mobil dan sepeda motor meningkatkan beban jalan, risiko kecelakaan, serta tekanan pada rest area dan SPBU. Karena itu, pengelolaan mudik harus berbasis data real-time, rekayasa lalu lintas di titik rawan, serta koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, kepolisian, operator transportasi, dan pengelola jalan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya penyediaan fasilitas istirahat yang memadai untuk menekan risiko kecelakaan akibat kelelahan, serta edukasi publik terkait perencanaan perjalanan dan keselamatan berkendara.
Menurut Aditya, kebijakan memastikan jalan tanpa lubang merupakan fondasi penting. Namun, pemeliharaan infrastruktur tidak seharusnya bersifat musiman menjelang Lebaran. Pendekatan berbasis manajemen aset jalan dengan pemantauan berkala dinilai lebih efektif dibanding perbaikan darurat.
“Jika sistem transportasi mampu berfungsi optimal saat beban puncak mudik, maka pada kondisi normal kinerjanya akan jauh lebih baik. Mudik 2026 harus menjadi momentum evaluasi dan pembenahan menyeluruh,” kata dia.
Dengan peran strategisnya, keberhasilan Lampung mengelola arus mudik tak hanya berdampak pada kenyamanan pemudik, tetapi juga pada kelancaran distribusi logistik dan mobilitas masyarakat di seluruh Sumatera. Integrasi sistem, manajemen lalu lintas adaptif, serta sinergi lintas sektor menjadi kunci menghadapi tantangan mobilitas ke depan.
Laporan/Editor: Ardi Munthe
Berikan Komentar