BACAGEH, Jakarta--PT Perkebunan Nusantara I (Persero) mengubah arah bisnis. Perusahaan tak lagi hanya mengandalkan penjualan komoditas secara business to business (B2B). Pasar ritel kini dibidik. Produk bermerek didorong lebih dekat ke konsumen.
Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras mengatakan, pemasaran harus menjadi mesin pertumbuhan bisnis. Bukan sekadar fungsi penjualan.
“Produk-produk PTPN I harus hadir di semua lini pasar. Dari warung kecil, pedagang kaki lima, hingga hotel berbintang,” kata Rivai di Jakarta, Senin (31-8-2026).
Menurut Rivai, transformasi bisnis membutuhkan perubahan cara pandang seluruh karyawan. Setiap insan PTPN I harus memahami produk dan ikut memasarkannya.
“Kita harus menggunakan produk kita sendiri. Memiliki product knowledge yang baik. Menjadi duta promosi di mana pun berada,” terangnya.
Rivai juga meminta Direktorat Pemasaran memperluas pasar. Strateginya harus lebih kreatif, inovatif, dan mengikuti kebutuhan konsumen.
Menurutnya, keunggulan PTPN I tidak cukup diukur dari volume produksi. Nilai tambah justru ditentukan dari kemampuan mengolah komoditas menjadi produk yang memiliki merek dan daya saing.
“Transformasi bisnis harus diperkuat melalui percepatan hilirisasi, pengembangan merek nasional, serta perluasan akses pasar,” tegasnya.
Direktur Pemasaran PTPN I Arif Budiman mengatakan, industri perkebunan kini memasuki persaingan baru. Perusahaan tidak cukup menjadi pemasok bahan baku. Nilai tambah harus diciptakan melalui inovasi, diferensiasi, dan kekuatan merek.
“Pemasaran memiliki peran strategis mengubah potensi komoditas menjadi produk unggulan yang memiliki daya saing tinggi,” terangnya.
PTPN I memiliki sejumlah komoditas unggulan. Mulai karet, teh, kopi, kakao, tembakau hingga cerutu premium. Potensi itu dikembangkan menjadi produk bermerek.
Di sektor teh, misalnya, PTPN I memperkuat merek Walini. Salah satunya melalui produk Ready to Drink (RTD) Premium Tea Walini dan Walini Signature Malabar Orange Pekoe Loose Tea.
Di sektor kopi, Rollas dan Banaran terus dikembangkan sebagai produk kopi Nusantara. Produk tembakau diperkuat melalui merek Golden Djawa dan Cerutu Deli Nusantara untuk pasar premium, termasuk pasar internasional.
Arif menegaskan, pengembangan merek bukan sekadar membangun nama produk. Targetnya menciptakan kepercayaan dan loyalitas konsumen.
“Ketika komoditas mampu bertransformasi menjadi produk bermerek yang memiliki kualitas dan karakter kuat, manfaat ekonomi yang dihasilkan akan semakin besar,” jelasnya.
Strategi pemasaran juga diarahkan pada penguatan brand equity, peningkatan customer experience, perluasan kemitraan, dan optimalisasi kanal digital.
Ukuran keberhasilan bukan hanya penjualan. PTPN I ingin membangun loyalitas dan menjadikan produknya sebagai pilihan konsumen.
“Kami ingin PTPN I tidak hanya dikenal sebagai produsen komoditas perkebunan unggulan, tetapi juga memiliki merek-merek nasional yang kuat dan mampu bersaing di pasar global,” kata Arif.
Dengan strategi tersebut, hilirisasi dan pemasaran menjadi bagian penting transformasi PTPN I. Target akhirnya, mengubah hasil kebun menjadi produk bernilai tambah dan memperbesar kontribusi bisnis perusahaan. (**)
Berikan Komentar