Menjemput Asa dengan Energi Surya, PHE OSES Perkuat Peran Perempuan di Pulau Sabira

Menjemput Asa dengan Energi Surya, PHE OSES Perkuat Peran Perempuan di Pulau Sabira
Rumah pengering ikan asin bantuan PHE OSES kepada perempuan di Pulau Sabira.//Dok.Pertamina

BACAGEH, Kepulauan Seribu--Di pulau kecil yang jauh dari hiruk-pikuk ibukota, matahari bukan sekadar penanda pergantian siang dan malam.

Bagi perempuan pesisir Pulau Sabira, energi matahari kini menjadi bagian dari upaya mengubah hasil tangkapan nelayan menjadi sumber penghidupan yang lebih bernilai.

Dua belas istri nelayan di Pulau Sabira, Kelurahan Harapan, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, mulai mengembangkan usaha pengolahan hasil laut melalui Program Pendekar Sabira atau Pengembangan Usaha Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Laut Sabira.

Program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan Pertamina Hulu Energi Offshore South East Sumatra (PHE OSES) tersebut tidak berhenti pada bantuan peralatan.

Para perempuan yang tergabung dalam Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Ikan Asin Selar diberikan pendampingan untuk meningkatkan keterampilan produksi, mengembangkan ragam olahan, memperkuat kelembagaan kelompok hingga membuka akses pemasaran.

Perubahan itu bermula dari persoalan sederhana yang selama ini menjadi kendala masyarakat pesisir: cuaca.

Sebelum program berjalan, pengolahan ikan asin masih mengandalkan penjemuran secara tradisional. Ketika hujan atau cuaca tidak bersahabat, proses pengeringan pun terganggu.

Kondisi tersebut bukan hanya memperlambat produksi, tetapi juga berpengaruh terhadap kualitas dan higienitas produk.

PHE OSES kemudian menghadirkan rumah pengering ikan yang memanfaatkan teknologi solar panel. Fasilitas itu mulai dibangun pada akhir 2023 sebagai bagian awal Program Pendekar Sabira.

Teknologi itu menjadi titik penting dalam proses produksi kelompok. Pengeringan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca, sehingga proses produksi dapat dilakukan dengan standar kebersihan yang lebih baik.

Meski demikian, rumah pengering hanyalah satu bagian dari perubahan. Para anggota Poklahsar juga mendapatkan pelatihan pengolahan dan diversifikasi produk.

Ikan yang sebelumnya lebih banyak dijual dalam kondisi segar atau diolah menjadi ikan asin secara tradisional mulai dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, termasuk kerupuk ikan.

Langkah tersebut membuat hasil laut tidak lagi berhenti sebagai komoditas mentah. Ikan selar, kembung dan tongkol yang melimpah di sekitar Pulau Sabira memiliki peluang untuk diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi lebih tinggi.

Di sinilah perempuan pesisir mengambil peran yang semakin besar. Program Pendekar Sabira mendorong anggota kelompok bukan hanya menjadi pengolah hasil tangkapan, tetapi juga pelaku usaha yang terlibat dalam pengembangan produk dan pemasaran. Penguatan kelembagaan dilakukan agar kelompok mampu berkolaborasi dan mengelola usaha secara lebih terarah.

Pendampingan pemasaran turut diberikan untuk membantu produk olahan masyarakat menjangkau pasar yang lebih luas. Hasilnya mulai terlihat dalam angka.

Sepanjang 2025, aktivitas usaha Poklahsar Ikan Asin Selar mencatat omzet sebesar Rp21,61 juta. Angka tersebut menjadi gambaran bahwa pemberdayaan yang dimulai dari persoalan produksi perlahan berkembang menjadi aktivitas ekonomi masyarakat.

Lebih dari sekadar nilai omzet, capaian tersebut menunjukkan adanya perubahan cara masyarakat melihat potensi perikanan di wilayahnya.

Pulau Sabira memiliki sumber daya laut yang melimpah. Akan tetapi, potensi tersebut belum otomatis memberikan nilai ekonomi maksimal apabila hanya dijual sebagai ikan segar atau diolah dengan cara konvensional.

Program Pendekar Sabira mencoba memutus mata rantai tersebut dengan menggabungkan tiga hal: teknologi, keterampilan dan penguatan peran perempuan.

Teknologi solar panel menjawab persoalan pengeringan. Pelatihan menjawab kebutuhan peningkatan kualitas dan diversifikasi produk. Sementara penguatan kelompok dan pemasaran membuka jalan agar usaha masyarakat tidak berhenti sebagai kegiatan produksi semata.

Bagi masyarakat pesisir, pendekatan semacam ini menjadi penting. Sebab keberlanjutan usaha tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas. Masyarakat juga membutuhkan kemampuan untuk mengelola, mengembangkan dan memasarkan produk secara mandiri.

Program yang dilaksanakan PHE OSES bersama pemerintah setempat dan para pemangku kepentingan tersebut pun diarahkan untuk membangun usaha perikanan berbasis potensi lokal yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan.

Dari sebuah rumah pengering yang memanfaatkan sinar matahari, perubahan yang lebih besar perlahan dibangun: perempuan pesisir memperoleh ruang lebih luas dalam ekonomi keluarga, hasil tangkapan nelayan memiliki nilai tambah, dan potensi laut Pulau Sabira mulai diolah menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.

Di pulau kecil itu, matahari kini tidak hanya mengeringkan ikan. Ia ikut menerangi jalan menuju kemandirian. (**)

Berikan Komentar