Pemprov Lampung Siapkan 15 Desa Wisata

Pemprov Lampung Siapkan 15 Desa Wisata

BACAGEH, Bandarlampung--Pemerintah Provinsi Lampung mulai menggeser arah pengembangan pariwisata dengan menyiapkan 15 desa wisata budaya sebagai wajah baru destinasi daerah. Program itu digarap bertahap untuk mengubah desa penyangga objek wisata menjadi kawasan singgah yang hidup, tertata, dan bernilai ekonomi.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung Tony Ferdinansyah, mengatakan selama ini pengembangan sector pariwisata di provinsi paling selatan Pulau Sumatera itu masih dominan menjual konsep wisata alam, seperti: Teluk Kiluan dan Pantai Gigi Hiu. Ke depan, wisatawan tidak hanya datang menikmati panorama, tetapi juga merasakan pengalaman budaya langsung di desa-desa sekitar destinasi utama.

“Orang yang menuju Gigi Hiu atau Teluk Kiluan nantinya bisa singgah dulu di desa wisata budaya yang bersih, rapi, dan tetap menampilkan identitas lokalnya,” kata Tony, Rabu (13-5-2026).

Konsep yang disiapkan meliputi penataan kawasan desa, pembangunan pedestrian, pusat kuliner khas, sentra kriya, hingga area penjualan suvenir masyarakat lokal. Rumah adat dan budaya setempat juga akan dipertahankan sebagai daya tarik utama.

Tak hanya itu, wisatawan juga akan disuguhi pengalaman interaktif, seperti mencoba pakaian adat, berfoto dengan busana tradisional, hingga menyaksikan langsung aktivitas masyarakat desa.

“Nantinya, wisatawan tidak hanya melihat alam, tapi juga menikmati budaya, kuliner, kerajinan, sampai kehidupan masyarakat desa,” terangnya.

Tony menyebut konsep tersebut mengarah pada pola pengembangan seperti Desa Penglipuran di Bali yang sukses mengangkat budaya lokal menjadi magnet wisata nasional.

Saat ini, sekitar 15 desa wisata budaya telah disiapkan Pemprov Lampung. Namun lokasi desa-desa itu masih dirahasiakan karena menunggu finalisasi surat keputusan pemerintah daerah.

Melalui program tersebut, Pemprov Lampung menargetkan pariwisata tak sekadar mendongkrak kunjungan wisatawan, tetapi juga membuka sumber ekonomi baru bagi warga desa melalui usaha kuliner, kriya, fesyen, dan cenderamata lokal.(**)

Laporan/Editor: Redaksi

Berikan Komentar