BACAGEH, Gedongtataan--Desa Bagelen, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, menjadi panggung pertemuan dua kepala daerah: Gubernur Lampung Ahmad Mirzani Djausal dan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Luthfi untuk membingkai kembali rajutan sejarah transmigrasi tahun 1905.
Kunjungan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi itu menegaskan posisi Desa Bagelen sebagai simpul sejarah transmigrasi dan persilangan peradaban Jawa–Lampung.
Kehadiran Ahmad Luthfi disambut langsung Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama Wakil Gubernur Jihan Nurlela serta Bupati Pesawaran Nanda Indira Bastian di Balai Desa Bagelen, Rabu (7-1-2025).
Ahmad Luthfi menyebut kunjungannya ke Desa Bagelen sebagai bentuk penghormatan terhadap akar budaya dan ikatan kekeluargaan masyarakat Jawa di perantauan.
“Hari ini Desa Bagelen punya kebanggaan tersendiri. Dua provinsi hadir bersama. Ini adalah pesan bahwa negara hadir dan berharap masyarakat hidup sejahtera serta damai,” kata Luthfi usai meninjau Museum Nasional Transmigrasi di Desa Bagelen, Kecamatan Gedongtataan.
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menegaskan kontribusi besar masyarakat suku Jawa, khususnya warga perantau asal Jawa Tengah, dalam membangun Lampung dari masa ke masa.
“Masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah, telah menjadi salah satu motor penggerak pembangunan di Provinsi Lampung. Mereka bukan sekadar pendatang, tapi bagian utuh dari identitas Lampung,” tegas Jihan.
Dia juga menyoroti sejarah kolonisasi dan transmigrasi yang membentuk struktur sosial Lampung saat ini, seraya menegaskan komitmen Pemprov Lampung membangun daerah dengan pendekatan keadilan sosial dan keberagaman.
“Pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga membangun manusia dan harmoni antarsuku,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Bupati Pesawaran Nanda Indira Bastian. Menurut dia, kunjungan Gubernur Jateng itu membuka ruang kolaborasi lintas daerah, khususnya dalam pertukaran pengalaman pembangunan dan penguatan nilai budaya.
“Kami berharap terjalin kerja sama yang lebih konkret. Kabupaten Pesawaran siap belajar dan berkolaborasi dengan Jawa Tengah untuk kemajuan daerah,” ujarnya.
Sejarah Transmigrasi
Desa Bagelen, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, merupakan lokasi pertama pemukiman transmigrasi dari pulau Jawa. Saat itu pada tahun 1905, pemerintah kolonial Belanda melaksanakan program kolonisasi (transmigrasi) yang menjadi bagian dari politik etis atau balas budi.
Politik etis dicetuskan sebagai bentuk balas budi pemerintah kolonial Belanda atas dampak negatif eksploitasi politik tanam paksa. Aturan tanam paksa yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda telah menyebabkan penderitaan rakyat, kelaparan massal, dan kematian (terutama di Pulau Jawa) karena lahan pertanian diambil paksa untuk ditanami komoditas ekspor.
Sebagai bentuk balas budi kepada rakyat korban tanam paksa, pemerintah kolonial Belanda mencetuskan dan menerapkan politik etis: irigasi, edukasi (pendidikan) dan kolonisasi (transmigrasi). Maka pada tahun 1905, pemerintah kolonial Belanda mendatangkan 155 kepala keluarga (sekitar 815 orang) dari Bagelen (wilayah Keresidenan Kedu), Jawa Tengah ke Gedongtataan, Keresidenan Lampung.
Masyarakat kolonisasi itu, kemudian membuka lahan pertanian dan membentuk pemukiman baru yang diberi nama Desa Bagelen, sesuai asal daerah mereka di Jawa. Program kolonisasi tersebut, kemudian berlanjut di era kemerdekaan dengan nama transmigrasi. (**)
Laporan: Rifat Arif
Editor: Nizar
Berikan Komentar