Ekspor Singkong Lampung Melonjak 73 Persen

Ekspor Singkong Lampung Melonjak 73 Persen
Penguatan Hilirisasi dan Daya Saing Industri Pangan dan Olahan Singkong di Bandarlampung. (Foto: Diskominfotik)

BACAGEH, Bandarlampung--Ekspor singkong Lampung melonjak 73,14 persen, sedangkan ekspor pati singkong tumbuh 37,7 persen. Capaian ini memperkuat peluang Lampung mengembangkan industri olahan singkong bernilai tambah tinggi, bukan sekadar memasok bahan baku.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan, lonjakan ekspor tersebut menjadi momentum bagi Lampung untuk mempercepat hilirisasi singkong. Pemerintah mendorong pengembangan produk turunan, mulai dari tepung mocaf, glukosa, sorbitol hingga bioetanol.

"Kinerja ekspor singkong Lampung meningkat 73,14 persen dan ekspor pati singkong tumbuh 37,7 persen. Pemerintah berkomitmen mendukung pengembangan produk turunan seperti mocaf, glukosa, sorbitol hingga bioetanol," kata Faisol saat menghadiri kegiatan Penguatan Hilirisasi dan Daya Saing Industri Pangan dan Olahan Singkong di Bandarlampung, Kamis (16-7-2026).

Menurut Faisol, Lampung memiliki modal kuat untuk menjadi pusat industri olahan singkong nasional. Selain didukung produksi singkong yang tinggi dan sektor pertanian yang kuat, Lampung memiliki infrastruktur logistik yang menunjang pengembangan industri.

Pemerintah pusat, kata dia, akan mendorong pengolahan singkong menjadi produk bernilai tambah tinggi. Dengan demikian, singkong tidak hanya dijual sebagai bahan baku, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan industri dan penguatan daya saing ekspor.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengatakan, hilirisasi harus berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani sekaligus membuka lapangan kerja baru.

Untuk mendukung langkah tersebut, Pemprov Lampung menyiapkan pembangunan Cassava Center sebagai pusat riset singkong yang diklaim pertama di Indonesia. Pemprov juga merencanakan pembangunan pabrik bioetanol berbahan baku singkong bersama PTPN serta pengembangan sentra industri mocaf di Pringsewu.

"Nilai tambah harus dinikmati petani, pelaku usaha, dan masyarakat. Karena itu hilirisasi menjadi fokus pembangunan ekonomi daerah," ujarnya.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita mengatakan, penguatan industri singkong juga dilakukan melalui sosialisasi hilirisasi, pelatihan keamanan pangan, serta program restrukturisasi mesin bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM).

Pemerintah berharap, pengembangan industri hilir dapat meningkatkan ekspor produk olahan singkong sekaligus memperkuat daya saing industri pangan nasional. (**)

Berikan Komentar